by

Seri pertama Liga 1 Putri 2019 Grup B yang digelar di Kota Batu

Seri pertama Liga 1 Putri 2019 Grup B yang digelar di Kota Batu akan berakhir pada Sabtu hari ini (12/10/2019).

Meski baru penyelenggaraan perdana, tim peserta yang terdiri dari Arema, PSM Makassar, Bali United, Persipura Jayapura, dan Persebaya Surabaya sudah memberikan hiburan tersendiri. Bukan saja dari sisi permainan, tetapi juga tampilnya pemain jelita di beberapa klub.

Mereka membuat suasana di tribune penonton lebih hidup karena suporter Liga 1 Putri 2019 masih didominasi kaum adam.

Setidaknya ada dua pemain yang mendapat perhatian lebih mata fan ketika bermain di Stadion Brantas maupun Lapangan Kusuma Agro Wisata, Kota Batu. Keduanya, yakni penyerang sayap PSM, Magdalena Unyat, dan bek Bali United, Ayu Lidya Agustin Meok.

Mendapat anugerah paras cantik, keduanya tidak khawatir main di bawah teriknya matahari dan yang membuat mandi keringat.

Pada penyelenggaraan Liga 1 Putri 2019 kali ini, panpel menjadwalkan pertandingan pada siang hari. Dalam beberapa pertandingan pemain harus tampil dengan sepak mula jam 13.00 WIB. Selain skill apik, tentu dibutuhkan pula kekuatan fisik untuk bermain di bawah terik mentari.

Dia jadi pemain yang memecah dukungan tim tuan rumah Seri 1 Liga 1 Putri 2019, Aremania, tepatnya saat PSM menjalani pertandingan terakhir seri pertama melawan Arema di Lapangan Kusuma Agro Wisata, Batu.

Bagaimana bisa?

Magda, saapaan akrabnya main sejak menit awal. wajahnya yang cantik membuat Aremania yang hadir di tribune penonton terlena.

Saat dia menguasai bola, beberapa Aremania girang dan memberikan semangat. Apalagi posisinya sebagai penyerang sayap kanan dan membuatnya sangat dekat dengan tribune penonton.

Namun, pemain kelahiran Kalimantan Utara, 19 tahun lalu ini terlihat tetap fokus pada permainan.

“Saya sudah sering melihat suporter seperti itu. Tapi, kalau sudah di lapangan, saya fokusnya ke bola saja karena tujuan saya bermain sepak bola,” kata wanita yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Widya Gama, Mahakam, Samarinda, ini.

Magda jatuh cinta pada sepak bola sejak duduk di kelas 4 SD. Bermula saat dia melihat teman-teman pria asyik memainkan si kulit bundar. “Banyak yang bertanya siapa insipirasi saya dalam bermain bola. Tapi, saya tidak punya pemain favorit atau sosok yang menginspirasi karena suka saja dengan olahraga ini, dan saya menginspirasi diri sendiri untuk bisa berhasil jadi pemain bola. Meski, awalnya justru jadi pemain futsal,” jelasnya.

Awalnya, sang ibu khawatir dengan olahraga yang diguluti Magda. Perlahan tapi pasti, dia justru dapat dukungan. Apalagi sekarang sudah bergabung dengan tim PSM.

“Mama sempat khawatir. Takut kuliah saya terganggu dan lain-lain. Tapi, saya berusaha meyakinkannnya,” ungkapnya.

Untuk urusan asmara, Magda mengaku masih betah menjomblo. Meski banyak yang mendekati, dia belum berpikir pacaran. Perempuan berkulit putih ini khawatir jika punya kekasih, justru membuat fokusnya pada sepak bola terganggu.

Kulitnya sawo matang khas perempuan Bali. Pemain 16 tahun ini posturnya juga tergolong kurus untuk pemain bola. Saat di lapangan, dia masih terlihat feminin dengan bentuk alis dan bulu matanya yang lentik.

Namun, itu tak jadi penghalang baginya terjun ke kancah sepak bola putri. Pemain bernomor punggung 19 ini tetap serius bersaing dapat tempat utama di tim Bali United.

“Bagi saya, sepak bola itu olahraga yang menantang dan asyik. Di sini saya juga betemu teman-teman dari daerah lain yang sudah seperti keluarga,” kata Lidya.

Orangtuanya sempat khawatir saat tahu beberapa tahun lalu dia mulai bermain bola. Apalagi dia adalah satu-satunya putri dari empat bersaudara sehingga orangtuanya khawatir dia mengalami cedera.

“Saya justru terinspirasi dan dapat dukungan dari kakak untuk jadi pemain bola. Selain itu, saya punya idola Alex Morgan (striker putri Amerika Serikat) dan Marcelo Vieira (bek Real Madrid),” jelasnya.

Di lapangan, Lidya berusaha dan belajar teknik bermain bola dari dua idolanya tersebut.

Mengenai celotehan penonton yang menggodanya di lapangan, dia menganggap hal yang sudah biasa.

“Saya tanggapi saja dengan senyuman,” imbuhnya.

Bicara penampilan di lapangan, Lidya sebenarnya sudah berusaha tampil normal seperti pemain sepak bola putri lainnya. Tetapi, jika di luar lapangan, penampilannya jauh lebih anggun. Hal itu bisa terlihat dari seretan foto-fotonya di akun Instagram personalnya.

News Feed